Treking Mangrove, Pantai Anora, Bukit Love dan Tugu Karimun Jawa
Jalan-jalan mengunjungi Eco Wisata
Mangrove aka Taman Nasional Karimun Jawa, Pantai Anora, Bukit Love
dan Tugu Karimun Jawa. Nah sebelum ekplorasi dimulai, sopir mobil
sewaan saya suruh untuk menjemput Ana dan Mr. Paul terlebih dulu,
sementara kami harus berkemas-kemas untuk memindahkan koper
karena sudah tidak menginap lagi di Hotel CocoHut. Kebetulan kamar
disini pas hari terakhir ini sdh full booked, dan alasan yang kedua
kami harus bergeser ke penginapan yang dekat dengan pelabuhan
Karimun Jawa supaya keesokan paginya tidak perlu terburu-buru untuk
mengejar kapal, apalagi kami bermaksud untuk kembali ke Jepara
menggunakan kapal cepat Bahari Express yang sudah bisa berlayar lagi
dan hanya ada sekali pelayaran setiap harinya.
Setelah
meninjau homestay sana-sini, akhirnya pilihan jatuh ke homestay
Sadewo. Selain bersih dan murmer, letaknya sangat deket pelabuhan,
bisa dijangkau cukup dengan jalan kaki. Berikutnya saya ingin
membeli tiket kepulangan menggunakan kapal Bahari Express, gak
nyangka si sopir menyeletuk, mengatakan bahwa anaknya dia kerja di
kantor perwakilan penjualan tiket kapal Bahari Express, Karimun Jawa.
Wah kebetulan sekali pikirku. Beres, hahaha belum juga, ternyata
hari itu kantornya masih tutup karena adanya tradisi perayaan
"Lomban". Ini merupakan pestanya para nelayan, yaitu
membuang sesajen di lautan lepas dengan menggunakan perahu-perahu
yang sudah dihias menarik. Perayaan ini mempunyai makna sebagai
ucapan syukur atas berkat yang didapatkan oleh nelayan. Biasa
dilaksanakan seminggu setelah Hari Idul Fitri. Biasanya dilaksanakan
di pantai Tanjung Gelam. Pas ditelpon, anaknya memberitahu kalau
tiket kapalnya tidak bisa direservasi (aturan perusahaan) dan harus
beli pada hari yang sama, nah ini yg bikin galau. Tapi bisa nitip
dibelikan besoknya pas buka.

Gerbang pintu masuk Taman Nasional
Karimun Jawa
Perjalanan
dimulai, tempat pertama yang kami tuju adalah Taman Nasional Karimun
Jawa. Trekking Mangrove ini terletak di sebelah utara (Pulau
Kemujan), yang jaraknya 18 km atau sekitar 30 menit dari pusat Kota
Karimun Jawa. Baru diresmikan sekitar bulan Mei 2012. Di dalam sini
kita bisa jalan santai sambil menikmati bebauan dedaunan hutan bakau.
Jangan lupa olesi badan dengan lotion anti nyamuk. Untuk tiket masuk,
kita cukup merogoh Rp. 5000 saja. Jam buka setiap hari dari pukul
08.00 hingga 17.00 WIB.
Murah meriah oye...
Obyek wisata
Mangrove ini bagus juga lho, buat jalan jalan sehat apalagi hari
masih pagi. Kami berjalan kaki mengikuti rute yang terpampang di
mapnya, sampai tiba di menara pemantau (Bird Watching), sambil
sekali-sekali istirahat di gubuk perhentian. Tiba di menara pemantau,
sebaiknya naik ke atas menara supaya bisa melihat pemandangan lepas.
Alamak view-nya, buagusss dech. Menikmati matahari terbenam bisa
juga dilakukan di menara yang juga disebut Sunset Area (Huruf
F).
Map jalur trekking
Mejeng dulu sebelum trekking
Dengan luas
area sekitar 10 hektar, dan jalur trekkingnya sendiri panjangnya 2 km
dan terbuat dari papan kayu yang berkelok-kelok, nah lho. Tapi jangan
kuatir memutari jalur trekking akan terasa sebentar jika dibarengi
dengan melihat-lihat kecantikan hutan mangrove ini, suara-suara
kicauan burung, desir angin dan yang jelas jangan terlalu sore kalau
mau kesini kalau gak mau kena cium nyamuk-nyamuk nakal

.
Menara Pantau
Salah satu view dari atas menara
pantau
Lepas dari
sini, kami penginnya melihat Pesta Rakyat Lomban tadi, yang
diadakan di Pantai Tanjung Gelam. Meluncurlah mobil kami ke Tanjung
Gelam, sayangya pas tiba di tempat, acaranya keburu sudah bubaran.
Selanjutnya kami ditawari untuk diantar menuju suatu pantai yang agak
tersembunyi, pak sopir menyebutnya pantai Cup-cup. Ya wes, kami
meng-iya-kan aja, karena sepertinya kok menarik apalagi mendengar
namanya kayak suatu iklan bumbu masakan gitu - Cup-cup - hahaha.
Pantai Cup-cup aka Pantai Anora
Dari Pantai
Tanjung Gelam, mobil kembali ke jalur utama, sebelum akhirnya
melintas di jalan yang offroad, jalan yg agak sempit hingga kalau
papasan mobil harus bener-bener pelaan jalannya. Dalam goyangan off
road perjalanan mobil ini, terjadi obrolan seputar namannya yang
"Cup-cup" tadi. Katanya konon ketika pantai tersebut
ditemukan pertama kali, di "Secret Garden"-nya pantainya
(wah tambah seru, ada "tempat rahasia" segala) terlihat
sepasang kekasih londo (wisman maksudnya) yang lagi memadu kasih alias
pacaran, pake memperagakan jari2 kedua telapak tangan dikuncupkan dan
saling disentuhkan layakya orang ciuman (sensor)
gitu lho he..he..he.., makanya dinamakan cup-cup.
Salah satu sudut pantai Anora
Setelah tiba
di bibir pintu masuk Pantai Anora ini, kami turun dan disambut oleh
seorang bapak tua. Nah ini bapak juga ikut bercerita ringkas kepada
saya, katanya pantai ini awalnya masih belum dijamah dan beliaulah
yang secara swadaya membangun semua pernak-pernik di situ. Dan memang
kelihatan sekali tatanan pantai ini memang masih seadanya banget,
padahal suasananya buaaagusss lho.
Treking Cinta - The Secret Garden
Begitu masuk
kami menemukan gapura yang ala kadarnya dan terkesan "Hand
Made" bertuliskan Treking Cinta. Nah kalau mau menuju
"Secret Garden" tempat ditemukan si sepasang kekasih bule
tadi, disinilah startnya. Dengan latar belakang 2 buah pohon kelapa
(seperti sepasang kekasih), bikin hati pengin tahu aja untuk
menyusuri Jalur Cinta ini. Saya dan istri (bak sepasang kekasih
wk..wk..wk) sepakat untuk menyusuri treking menuju secret garden.
Jalurnya naik turun dan lumayan curam lho (si londo mau pacaran aja
kok cari tempat yang rempong gini

). Dan akhirnya kami tiba di ujung yang memang kereeen banget
tempatnya. Pemandangan lepas pantainya bagus. Di bibir pantainya, ada
juga pohon bercabang dua yang tumbuh alami lalu diberi papan buat
duduk, ceritanya supaya bisa duduk berduaan nich, pokoknya serba dua
kalau disini (anak-anak off dulu).
Pohon Kemesraan
Best view
Selain itu
disini juga terdapat ayunan. Wah pas banget, sambil duduk main ayunan
bisa menikmati deburan ombak lepas pantai dan hembusan angin yang
sepoi-sepoi. Sayang sekali tempat sebagus ini tidak dikelola dan
dikembangkan sebagai obyek wisata andalan Karimun Jawa dan hanya
dikelola secara swadaya oleh seorang bapak yang bercerita kepada saya
di pintu masuk tadi.
Waktu terus
berjalan menjelang petang, rencana berikutnya kami ingin menikmati
sunset dari Bukit Love. Dari Pantai Anora ini, mobil kami kembali
bergerak menuju Bukit Love. Dari jalan utama, masuk ke jalan yang
agak menanjak sehingga ketemu batu bertuliskan LOVE yang merupakan
ciri khas Bukit Love. Pemandangan sunset dari sini indah sekali.
Ciri khas Bukit Love
Kalau berjalan
kaki naik sedikit di jalan yang ada diseberang tulisan LOVE ini,
dengan mudahnya kita akan menemukan Tugu Karimun Jawa yang unik.
Sepertinya di lokasi ini masih dalam tahap pengerjaan namun tidak tau
juga akan dibangun apa disitu, karena hanya ada batu pahatan
bertuliskan "Karimun Jawa", yang menarik buat mejenk.
Tugu Karimun Jawa
Waktu berjalan
begitu cepatnya ketika menikmati pemandangan dari bukit sini, tak
terasa sudah hampir gelap, sehingga kita turun menuju alun-alun
kembali untuk bersantap malam.
Keesokan
paginya, saya bergegas menuju kantor penjualan tiket Bahari Express
yang lokasinya cukup dekat dari Homestay Sadewo tempat kami menginap.
Cukup berjalan kaki sekitar 200m sudah tiba di depan kantor dan
alamak di papan pengumuman kantor tsb sudah terpampang kalo tiket
Bahari Express untuk hari itu sudah terjual habis. Beruntung kami
sudah pesan duluan sehingga tinggal ambil dan bayar aja, dan
tra..la..la..la, tiket pun sudah ditangan.
Penampakan Tiket Bahari Express
Hari itu Kapal
Bahari Express dijadwalkan akan berlayar pukul 09.00, jadi kami masih
punya waktu sekitar 1 jam. Kesempatan ini kami gunakan untuk
jalan-jalan aja di seputaran Kapuran. Dan ternyata kami menemukan ada
Taman Kupu-Kupu yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat
setempat. Tampaknya antusias warga sini dalam menyediakan obyek
wisata alternatif cukup kreatif juga.
Butterfly Park
Gerai Permainan di Butterfly Park
Jam sudah
menunjukan hampir pukul 09.00, tuntaslah sudah jalan-jalan kami di
Karimun Jawa, kami berjalan kaki menuju dermaga dan naik kapal Bahari
Express untuk kembali ke Jepara dan pulang ke rumah.
Suasana Di dalam Kapal Bahari
Express
Tidak ada komentar:
Posting Komentar